Di internet beredar klaim yang terdengar mengganggu sekaligus menarik. Dikisahkan bahwa pada awal 1960-an, sebanyak 37 anak menggambar teman imajiner yang sama. Anak-anak tersebut disebut tidak saling mengenal, namun hasil gambar mereka tampak sangat mirip. Narasi ini sering digunakan untuk menyiratkan adanya fenomena misterius atau non-manusia.

Klaim semacam ini perlu ditanggapi secara hati-hati. Dalam sains, ketertarikan emosional tidak boleh menggantikan verifikasi data. Langkah pertama dalam menilai klaim luar biasa adalah menelusuri sumbernya. Hingga saat ini, tidak ditemukan catatan akademik yang mendukung cerita tersebut. Tidak ada jurnal psikologi dari era 1960-an yang mencatat studi semacam ini. Tidak ada laporan sekolah, nama guru, peneliti, atau institusi yang terlibat. Ketiadaan data primer menjadi masalah utama bagi validitas klaim ini.

Dalam penelitian ilmiah, dokumentasi adalah fondasi. Sebuah studi harus dapat ditelusuri, diuji ulang, dan diverifikasi. Tanpa itu, sebuah cerita tidak lebih dari narasi anekdotal. Anekdot bisa menarik, tetapi tidak dapat dijadikan bukti ilmiah.

Untuk memahami mengapa gambar-gambar anak terlihat mirip, psikologi perkembangan memberi konteks penting. Anak-anak memiliki pola universal dalam menggambar manusia, dan pola ini telah didokumentasikan selama puluhan tahun. Pada usia sekitar empat hingga delapan tahun, anak berada pada tahap schematic drawing. Di tahap ini, kepala sering digambar lebih besar dari tubuh. Wajah menjadi pusat perhatian karena berkaitan dengan identitas dan interaksi sosial, sementara mata digambar besar dan sederhana karena memiliki makna emosional bagi anak.

Tubuh biasanya digambar kurus dengan tangan panjang. Hal ini bukan simbol makhluk asing, melainkan keterbatasan motorik halus. Garis lurus lebih mudah dibuat daripada proporsi anatomi kompleks. Keseragaman muncul dari tahap kognitif yang sama, bukan dari sumber misterius. Fenomena lain yang perlu diperhatikan adalah bias seleksi. Dari banyak gambar anak, hanya yang terlihat mirip yang dipilih dan disebarkan. Gambar yang tidak sesuai narasi diabaikan, sehingga menciptakan ilusi keseragaman yang lebih kuat dari kenyataan.

Otak manusia sangat peka terhadap pola visual. Kita secara alami mencari keteraturan dan makna. Ketika melihat beberapa gambar serupa, otak cenderung menyimpulkan adanya hubungan tersembunyi. Proses ini dikenal sebagai confirmation bias. Narasi ini juga sering diperkaya dengan visual yang tidak sezaman. Sebagian gambar berasal dari proyek seni modern, sebagian lain dari arsip berbeda lokasi dan waktu. Ketika digabungkan, gambar-gambar tersebut menciptakan kesan peristiwa tunggal.

Beberapa orang mencoba menjelaskan fenomena ini dengan konsep arketipe Carl Jung. Namun, arketipe bersifat simbolik, bukan visual spesifik. Jung tidak pernah menyatakan bahwa anak akan menggambar sosok identik tanpa stimulus. Konsep ini sering disalahartikan dalam budaya populer. Ada pula yang mengaitkannya dengan trauma kolektif. Penelitian menunjukkan trauma dapat memengaruhi tema gambar anak, tetapi trauma tidak menghasilkan keseragaman visual detail. Ekspresi individu tetap dominan dalam hasil gambar.

Dalam sains, replikasi adalah kunci keandalan. Sebuah fenomena harus dapat diamati ulang oleh peneliti lain. Hingga kini, tidak ada eksperimen serupa yang berhasil direplikasi, yang semakin melemahkan klaim keaslian cerita tersebut. Daya tarik cerita ini sebagian berasal dari efek uncanny. Bentuk humanoid yang hampir manusia, tetapi terasa asing, memicu ketidaknyamanan. Respons emosional ini bersifat evolusioner, dan banyak cerita horor memanfaatkannya secara sengaja.

Kesimpulannya, klaim 37 anak menggambar sosok yang sama tidak didukung bukti ilmiah. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui psikologi perkembangan dan bias kognitif, tanpa memerlukan hipotesis supranatural atau non-manusia. Yang ada adalah kombinasi pola universal, seleksi visual, dan narasi viral. Memahami kasus ini penting bagi literasi sains. Tidak semua yang viral adalah fakta, dan tidak semua yang terasa misterius adalah fenomena nyata. Sering kali, jawabannya ada pada cara kerja pikiran manusia itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *