Di alam liar, burung dikenal sebagai hewan yang sangat menjaga kebersihan bulunya. Namun pada beberapa spesies, perawatan ini dilakukan dengan cara yang tampak tidak masuk akal bagi manusia. Burung tertentu sengaja mendekati sarang semut, membiarkan serangga itu merayapi tubuhnya, atau bahkan mengambil semut hidup dan menggosokkannya ke bulu. Perilaku ini dikenal dalam biologi sebagai anting behavior dan telah didokumentasikan oleh para ornitolog sejak abad ke sembilan belas. Anting bukan fenomena langka atau lokal. Perilaku ini telah diamati pada ratusan spesies burung dari berbagai kelompok yang tidak berkerabat dekat. Fakta ini menunjukkan bahwa anting bukan hasil kebetulan, melainkan adaptasi biologis yang muncul berulang kali melalui seleksi alam. Dalam studi perilaku hewan, kemunculan pola serupa pada garis keturunan yang berbeda sering menjadi indikator kuat adanya manfaat evolusioner. Bentuk anting aktif dan pasif Anting secara umum dibagi menjadi dua bentuk utama berdasarkan cara burung berinteraksi dengan semut. Pada anting aktif, burung mengambil semut menggunakan paruhnya lalu menggosokkannya ke bagian tubuh tertentu seperti sayap, dada, punggung, atau pangkal ekor. Gerakan ini dilakukan berulang dan terarah, seolah burung mengetahui area mana yang perlu diperlakukan. Sebaliknya, anting pasif terjadi ketika burung berdiri atau berbaring di dekat sarang semut dan membiarkan semut merayapi tubuhnya tanpa intervensi langsung. Dalam kedua bentuk ini, kontak antara semut dan bulu burung menjadi elemen utama. Tidak semua spesies burung melakukan kedua jenis anting, dan pilihan bentuknya sering dipengaruhi oleh perilaku spesifik dan habitat masing masing spesies. Peran asam format dari semut Semut yang digunakan dalam perilaku anting bukan semut sembarangan. Burung cenderung memilih semut yang mampu menghasilkan asam format sebagai mekanisme pertahanan. Asam format adalah senyawa kimia bersifat asam yang disemprotkan semut ketika terancam. Dalam konteks biologis, senyawa ini dikenal memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan insektisida ringan. Ketika semut digosokkan ke bulu, asam format dilepaskan dan menyebar di permukaan tubuh burung. Bulu burung merupakan lingkungan ideal bagi parasit seperti kutu dan tungau, serta mikroorganisme yang dapat merusak struktur bulu. Dengan memanfaatkan asam format, burung menggunakan senjata kimia milik spesies lain untuk membantu menjaga kesehatan bulunya tanpa harus memproduksi zat tersebut sendiri. Anting dan pengendalian parasit Parasit bulu bukan sekadar gangguan ringan. Pada burung liar, infestasi parasit dapat menurunkan kualitas bulu, mengganggu kemampuan terbang, dan meningkatkan risiko kematian. Bulu yang rusak mengurangi efisiensi aerodinamika dan memperburuk regulasi suhu tubuh. Dalam kondisi ekstrem, burung dengan bulu rusak menjadi lebih mudah ditangkap predator. Anting diduga berfungsi sebagai salah satu mekanisme pengendalian parasit yang relatif hemat energi. Dibandingkan mencabuti parasit satu per satu, membiarkan semut menyebarkan zat kimia secara merata jauh lebih efisien. Beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa asam format mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu, meskipun efektivitasnya di alam masih menjadi perdebatan. Hubungan anting dengan masa ganti bulu Frekuensi anting sering meningkat selama masa moulting atau ganti bulu. Pada fase ini, burung kehilangan bulu lama dan menumbuhkan bulu baru. Proses tersebut membuat kulit menjadi lebih sensitif dan rentan terhadap iritasi serta infeksi. Pada saat yang sama, parasit bulu cenderung berkembang lebih cepat karena struktur bulu yang belum stabil. Observasi lapangan menunjukkan bahwa burung lebih sering melakukan anting selama periode ini, yang mendukung hipotesis bahwa perilaku tersebut membantu meredakan rasa gatal dan mengurangi risiko infeksi kulit. Asam format diduga berperan dalam membersihkan permukaan kulit dan menekan pertumbuhan mikroba selama fase rentan ini. Anting sebagai persiapan sebelum makan Pada beberapa spesies, anting tidak berhenti pada perawatan tubuh. Semut yang digosokkan ke bulu kemudian dimakan oleh burung. Proses ini dikenal sebagai pre ingestive anting. Dengan memicu semut mengeluarkan asam formatnya terlebih dahulu, burung mengurangi kandungan zat iritan sebelum mengonsumsinya. Eksperimen pada burung tertentu menunjukkan bahwa semut yang telah digunakan untuk anting lebih mudah diterima sebagai makanan dibandingkan semut yang masih memiliki cadangan asam format penuh. Hal ini menunjukkan bahwa anting dapat memiliki fungsi ganda, yaitu perawatan tubuh sekaligus strategi pengolahan makanan. Anting dalam kerangka zoopharmacognosy Dalam biologi perilaku, anting sering dibahas dalam konteks zoopharmacognosy, yaitu kemampuan hewan memanfaatkan zat alami dari lingkungan sebagai bentuk pengobatan mandiri. Perilaku serupa ditemukan pada berbagai hewan lain, seperti primata yang memilih tanaman pahit untuk melawan parasit atau serangga yang menggunakan senyawa toksik untuk perlindungan diri. Anting menunjukkan bahwa hewan tidak memerlukan pemahaman sadar tentang kimia atau penyakit untuk melakukan tindakan yang bersifat terapeutik. Cukup dengan adanya keuntungan biologis yang konsisten, perilaku tersebut dapat dipertahankan dan diwariskan melalui seleksi alam. Navigasi pos Keibuan Paling Ekstrem di Laut Fenomena Kesaksian Ular Berkedip