Di antara semua makhluk laut, gurita betina memiliki salah satu kisah reproduksi paling ekstrem yang pernah diketahui sains. Ketika seekor gurita bertelur, hidupnya secara efektif telah mencapai fase akhir. Bukan karena usia, penyakit, atau predator, tetapi karena mekanisme biologis yang secara aktif mendorong tubuhnya menuju kematian setelah tugas reproduksi dimulai.

Fenomena ini dikenal sebagai semelparitas, sebuah strategi evolusi di mana organisme hanya bereproduksi satu kali sepanjang hidupnya. Pada gurita, strategi ini diwujudkan dalam bentuk pengorbanan total, baik secara energi, fisiologi, maupun kelangsungan hidup individu.

Semelparitas sebagai Strategi Evolusi

Dalam dunia hewan, terdapat dua strategi reproduksi utama. Iteroparitas memungkinkan organisme bereproduksi berkali-kali selama hidupnya, sementara semelparitas membatasi reproduksi hanya pada satu kesempatan. Gurita termasuk kelompok semelpar yang paling ekstrem.

Strategi ini berkembang bukan karena kejamnya alam, melainkan karena efisiensi energi. Gurita memiliki metabolisme tinggi, kecerdasan kompleks, dan tubuh lunak tanpa perlindungan cangkang. Setelah bertelur, peluang bertahan hidup induk sangat kecil. Secara evolusioner, lebih menguntungkan jika seluruh energi yang tersisa dicurahkan untuk memastikan telur berkembang sempurna daripada mempertahankan tubuh induk yang sudah rentan.

Perilaku Penjagaan Telur

Begitu telur dikeluarkan dan ditempelkan pada dinding sarang, gurita betina berhenti menjalani kehidupan normalnya. Ia tidak lagi berburu, tidak berpindah tempat, dan hampir tidak bergerak. Selama periode ini, seluruh aktivitasnya berfokus pada perawatan telur.

Ia secara konstan meniupkan air menggunakan sifon untuk memastikan aliran oksigen tetap stabil. Telur-telur itu dibersihkan dari partikel, jamur, dan mikroorganisme yang berpotensi merusak embrio. Jika ada predator kecil mendekat, gurita akan mengusirnya meskipun tubuhnya semakin melemah dari waktu ke waktu.

Perubahan Fisiologis yang Mematikan

Yang membuat keibuan gurita begitu fatal adalah perubahan hormon yang terjadi setelah bertelur. Kelenjar optik pada gurita, organ yang memiliki fungsi serupa dengan kelenjar pituitari pada vertebrata, mulai melepaskan hormon yang memicu proses penuaan ekstrem.

Hormon ini menyebabkan kerusakan jaringan, penurunan koordinasi saraf, dan kegagalan organ. Gurita mulai kehilangan kemampuan berburu, kulitnya berubah tekstur, dan sistem imunnya melemah. Bahkan jika makanan tersedia di dekatnya, ia tidak lagi memiliki dorongan biologis untuk makan.

Eksperimen menunjukkan bahwa jika kelenjar optik diangkat secara artifisial, gurita betina dapat kembali makan dan bahkan hidup lebih lama. Ini menunjukkan bahwa kematian bukan akibat kelelahan semata, melainkan hasil dari mekanisme biologis yang terprogram.

Rekor Penjagaan Telur Terlama

Pada tahun 2014, peneliti dari Monterey Bay Aquarium Research Institute mendokumentasikan kasus paling ekstrem yang pernah tercatat. Seekor gurita betina dari spesies Graneledone boreopacifica ditemukan menjaga telurnya di kedalaman laut lebih dari 1300 meter.

Yang mengejutkan, induk ini merawat telurnya selama 53 bulan. Selama lebih dari empat tahun, ia tetap berada di lokasi yang sama tanpa bukti aktivitas makan. Para peneliti secara berkala mengamati kondisi tubuhnya yang semakin menyusut dan melemah, sementara telur-telurnya terus berkembang dengan stabil.

Ketika telur akhirnya menetas, induk tersebut menghilang dan diduga mati tidak lama setelah proses penetasan selesai. Tidak ada pemulihan, tidak ada fase istirahat, dan tidak ada kesempatan reproduksi kedua.

Makna Biologis di Balik Pengorbanan

Kasus gurita betina sering digunakan sebagai contoh ekstrem dalam biologi evolusi untuk menunjukkan bahwa seleksi alam tidak memprioritaskan kebahagiaan individu, tetapi keberhasilan genetik. Dari sudut pandang gen, keberhasilan diukur dari kelangsungan keturunan, bukan dari lamanya hidup induk.

Dalam konteks ini, pengorbanan gurita bukanlah tindakan moral atau emosional, melainkan konsekuensi dari tekanan evolusioner selama jutaan tahun. Sistem saraf, hormon, dan perilaku semuanya bekerja dalam satu arah yang sama, memastikan telur memiliki peluang hidup setinggi mungkin meskipun harus dibayar dengan nyawa induknya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di alam, keibuan dapat menjadi proses biologis yang radikal, sunyi, dan tanpa ruang untuk pilihan. Gurita betina tidak memilih untuk mati, tetapi tubuhnya memang tidak dirancang untuk bertahan setelah tugas tersebut selesai.