Pendaratan manusia di Bulan adalah salah satu pencapaian teknologi terbesar abad ke-20. Namun sejak langkah Neil Armstrong pada 20 Juli 1969, tak ada negara selain Amerika Serikat yang berhasil mengulangi prestasi mengirim astronot dan menapakkan kaki di permukaan Bulan. Pernyataan ini bukan mitos: semua misi berawak yang berhasil ke Bulan—dari Apollo 11 sampai Apollo 17—dijalankan oleh NASA pada rentang 1969–1972. Bukti arsip, rekaman, dan data ilmiah misi Apollo terdokumentasi secara luas oleh NASA dan komunitas ilmiah internasional. NASA Science

Mengapa tak ada negara lain yang mengirim manusia ke Bulan setelah era Apollo? Jawabannya multifaktorial. Pertama, biaya adalah penghambat utama. Program Apollo memicu pengeluaran publik dan politik berskala besar; dikonversi ke nilai sekarang, anggarannya mencapai ratusan miliar dolar. Setelah tujuan politik — memenangkan Space Race melawan Uni Soviet — tercapai, dukungan anggaran dan kepentingan politik berkurang drastis. Akibatnya prioritas eksplorasi ruang angkasa beralih ke program yang lebih berkelanjutan dan relatif murah, seperti stasiun luar angkasa dan misi robotik. NASA Science

Kedua, risiko operasi berawak sangat tinggi. Misi berawak memerlukan infrastruktur peluncuran besar, sistem penyelamatan, kehidupan yang aman di ruang hampa, dan margin keselamatan yang ketat. Satu kegagalan bisa mengakibatkan kehilangan nyawa dan kerusakan reputasi nasional. Oleh karena itu banyak badan antariksa memilih strategi bertahap: uji kemampuan robotik dan otomatisasi terlebih dahulu, sebelum mempertimbangkan misi manusia. Pilihan ini juga memberi hasil ilmiah besar dengan biaya lebih kecil. (Contoh strategi ini terlihat di banyak misi modern yang berfokus pada pendaratan robotik dan pengembalian sampel.) NASA Science

Perkembangan dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa banyak negara memang aktif di Bulan — tetapi dengan pendekatan robotik. Tiongkok (CNSA) telah mencapai sejumlah tonggak penting: Chang’e-3 mendarat pada 2013 dengan rover Yutu; Chang’e-4 membuat pendaratan pertama di sisi jauh Bulan pada 2019; dan Chang’e-5 berhasil membawa sampel lunar kembali ke Bumi pada 2020. Pencapaian-pencapaian ini menegaskan kemampuan teknis yang nyata dan menyusun fondasi bagi rencana pendaratan berawak di masa depan. CNSA+1

India (ISRO) menambahkan babak baru pada 2023 dengan Chandrayaan-3, yang sukses melakukan soft landing di wilayah kutub selatan Bulan—lokasi yang sangat menarik secara ilmiah karena kemungkinan adanya es dan sumber daya lain. Keberhasilan ini menempatkan India sebagai salah satu negara yang berhasil melakukan pendaratan lunak di permukaan Bulan tanpa awak, menunjukkan bahwa akses ke permukaan Bulan kini semakin multi-polaris. Indian Space Research Organisation

Jepang juga mencatat prestasi penting ketika JAXA berhasil mendaratkan Smart Lander for Investigating Moon (SLIM) pada Januari 2024—sebuah pendaratan presisi tinggi yang dirancang untuk menunjukkan kemampuan menargetkan lokasi pendaratan dengan ketelitian sekali jump. Keberhasilan-keberhasilan robotik region Asia, Eropa, dan lainnya menandai pergeseran strategi global: sebelum turun tangan mengirim manusia, banyak negara memilih meraih kemampuan teknis dan ilmiah lewat wahana tak berawak terlebih dahulu. JAXA

Akhirnya, dinamika geopolitik dan tujuan ilmiah modern berbeda dari era 1960-an. Sekarang negara-negara besar sering bekerja sama (misalnya kolaborasi internasional di ISS dan program Artemis), dan ada minat baru pada infrastruktur jangka panjang di Bulan—seperti pangkalan pengisian, pertambangan sumber daya, dan platform untuk misi Mars. Dengan biaya yang lebih terkendali dan teknologi yang makin matang, misi berawak ke Bulan kini kembali menjadi prioritas: NASA lewat program Artemis menargetkan kembalinya manusia pada 2020-an, dan Cina menyatakan ambisi pendaratan berawak pada dekade mendatang. NASA Science+1

Kesimpulan: sampai hari ini, hanya Amerika Serikat yang pernah mengirim manusia ke permukaan Bulan. Namun kapabilitas teknis global sudah berubah: pendekatan bertahap lewat misi robotik telah menurunkan risiko dan biaya pembelajaran, sehingga era baru—di mana lebih banyak negara mungkin akan mengirim manusia ke Bulan—sedang dimulai. Bukti sejarah dan perkembangan teknis terbaru didokumentasikan oleh lembaga-lembaga luar negeri terkemuka seperti NASA, ISRO, CNSA, JAXA, dan ESA. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *