Kasus Shanti Devi sering disebut sebagai salah satu kisah reinkarnasi paling terkenal di abad ke-20. Cerita ini beredar luas dalam buku populer, artikel media, dan konten digital, sering kali disajikan sebagai bukti bahwa kesadaran manusia dapat berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Namun, ketika ditelaah dengan pendekatan ilmiah, kasus ini justru menjadi contoh penting tentang bagaimana psikologi, budaya, dan keterbatasan metode investigasi dapat membentuk sebuah misteri yang tampak meyakinkan.

Shanti Devi lahir di Delhi, India, pada tahun 1926, dalam keluarga kelas menengah biasa. Hingga usia sekitar empat tahun, tidak ada yang tampak berbeda dari perkembangan anak-anak lain seusianya. Namun kemudian, ia mulai mengucapkan pernyataan yang mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Dengan nada tenang dan konsisten, Shanti mengatakan bahwa dirinya pernah hidup sebagai seorang wanita dewasa di kota Mathura, bernama Lugdi Devi. Ia mengaku telah menikah, memiliki beberapa anak, dan meninggal dunia saat melahirkan.

Awalnya, orang tua Shanti menganggap ucapan tersebut sebagai imajinasi anak kecil. Anak usia dini memang sering berfantasi, menciptakan cerita, atau meniru percakapan orang dewasa. Namun, yang membuat kasus ini berbeda adalah konsistensi cerita Shanti. Dari waktu ke waktu, alih-alih berubah, narasinya justru semakin rinci. Ia menyebut nama suami, jenis pekerjaan yang dijalani, serta kebiasaan rumah tangga yang spesifik.

Shanti juga menunjukkan perilaku yang tidak biasa, seperti mengoreksi cara memasak ibunya atau menolak kebiasaan tertentu, dengan alasan bahwa ia terbiasa melakukan hal tersebut dengan cara lain. Bagi orang dewasa di sekitarnya, perilaku ini terasa janggal. Kekhawatiran pun muncul bahwa Shanti mungkin mengalami gangguan psikologis.

Keluarga kemudian membawa Shanti ke dokter untuk diperiksa. Berdasarkan catatan yang tersedia, pemeriksaan tersebut tidak menemukan tanda-tanda gangguan mental, delusi, atau penyakit jiwa. Shanti dinilai sehat secara psikologis untuk ukuran anak seusianya. Hasil ini justru memperkuat rasa heran orang-orang di sekitarnya.

Ketertarikan terhadap cerita Shanti semakin besar ketika seorang guru memutuskan untuk menguji klaimnya. Guru tersebut mengirimkan surat ke Mathura, kepada seorang pria bernama Kedarnath Chaube, yang disebut Shanti sebagai suaminya di kehidupan sebelumnya. Balasan surat tersebut mengejutkan banyak pihak. Kedarnath Chaube benar-benar ada, memiliki toko pakaian, dan istrinya, Lugdi Devi, memang meninggal saat melahirkan beberapa tahun sebelumnya. Waktu kematian Lugdi Devi juga berdekatan dengan kelahiran Shanti Devi.

Bagi sebagian orang, kecocokan ini tampak lebih dari sekadar kebetulan. Namun Kedarnath sendiri awalnya bersikap skeptis. Ia berusaha mencari penjelasan rasional dan bahkan mencoba menguji Shanti secara tidak langsung. Ia mengirim sepupunya ke Delhi dengan menyamar sebagai dirinya. Ketika bertemu, Shanti segera mengatakan bahwa pria tersebut bukan suaminya, melainkan sepupu yang sering datang ke rumah mereka di Mathura. Peristiwa ini membuat sepupu tersebut terkejut dan Kedarnath semakin penasaran.

Akhirnya, Kedarnath datang sendiri ke Delhi tanpa pemberitahuan sebelumnya. Menurut kesaksian yang ditulis kemudian, Shanti berlari ke arahnya, lalu berhenti dengan ekspresi malu. Para saksi menggambarkan reaksi ini seperti seorang istri yang menyadari bahwa ia kini berdiri di hadapan suaminya dalam tubuh seorang anak kecil. Shanti kemudian menyebut berbagai detail kehidupan rumah tangga yang dianggap hanya diketahui oleh istrinya.

Salah satu klaim yang paling sering dikutip adalah pernyataan Shanti mengenai lokasi uang dan perhiasan yang disembunyikan di rumah di Mathura. Lokasi tersebut, menurut kesaksian keluarga, dinyatakan benar setelah diperiksa. Detail inilah yang kemudian menjadi inti narasi populer tentang kasus Shanti Devi.

Berita mengenai peristiwa ini menyebar luas dan menarik perhatian tokoh-tokoh penting, termasuk Mahatma Gandhi. Atas inisiatif Gandhi, sebuah komite dibentuk untuk menyelidiki kasus ini. Komite tersebut terdiri dari pengacara, jurnalis, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat. Tujuan mereka bukan untuk membuktikan reinkarnasi, melainkan untuk mencari kemungkinan penjelasan rasional.

Pada tahun 1934, Shanti Devi dibawa ke Mathura bersama anggota komite. Menurut laporan, ia belum pernah melakukan perjalanan jauh sebelumnya. Setibanya di Mathura, Shanti dikatakan mampu menunjukkan jalan, toko, dan rumah yang ia klaim sebagai tempat tinggalnya dahulu. Ia mengenali rumah tersebut dan menyebutkan tata letak ruangan di dalamnya, meskipun beberapa detai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *